Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

 rina widarsih's Site

Blog EntryJan 28, '08 2:59 AM
for everyone

Beberapa waktu yang lalu, sepulang takziyah, ibu bercerita tentang penyebab kematian almarhum. Beliau menderita kanker prostat yang hanya dalam hitungan bulan dari terdeteksinya penyakit hingga beliau meninggal. Satu yang menarik dari perilaku beliau adalah masih tetap merokok ketika telah menjalani opname di rumah sakit. Otakku  langsung membuka kembali arsip ingatan tentang keikutsertaanku pada workshop konseling berhenti merokok lima bulan lalu.

 

Kanker prostat yang menyerang ternyata sangat ganas sehingga penyebarannya sudah meluas hingga beberapa organ dalam. Indikasi kuat penyebab kanker yang dideritanya adalah perilaku merokok yang bisa dikatakan sudah pada kategori sangat berat. Meskipun memang merokok tidak dapat disebut secara mutlak sebagai penyebab kanker dan juga penyebab kematiannya. Para ahli sampai saat ini juga belum dapat menunjuk penyebab tunggal penyakit kanker. Namun demikian, merokok merupakan pemicu kanker itu sudah ditunjukkan oleh banyak penelitian. Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia dan sebagian besar diantaranya beracun. Sebagian racun dihisap oleh perokok aktif dan pasif meliputi Arsenik, Benzen, Karbonmonoksida, Formalin, Hidrogen sianida, Amoniak, Vinyl klorida, dan banyak bahan kimia lainnya. Merokok meningkatkan resiko semua kanker sistem pernafasan dan saluran pencernaan secara nyata. Organ yang diserang meliputi paru, larynx, sinus, hidung, mulut, eshopagus, lambung, pankreas. Kanker lainnya sebagai akibat merokok yaitu ginjal, kandung kemih, leukemia myeloid akut, dan mulut rahim (US Surgeon General’s Report, 2004). Dan yang lebih mengerikan lagi adalah resiko yang dialami perokok pasif ternyata tidaklah lebih rendah daripada perokok aktif. (baca blog selanjutnya tentang ’Perokok Pasif dan resiko yang menyertainya’). Kondisi tubuh yang kurang fit (sakit) akan diperparah jika ia seorang perokok karena pada perokok terjadi perubahan fungsi imunitas yaitu penurunan jumlah dan fungsi sel pembunuh alami, penurunan jumlah sel imun lainnya, dan penurunan keempat jenis antibodi. Oleh karena itu angka mortalitas karena penyebab apapun meningkat sampai 200%, bagi perokok aktif yang menghisap 6-9 batang rokok per hari (Prescot E. J Epidemiol Community Health, 2002). Sehingga tidak ada alasan untuk melanjutkan merokok, karena merokok dalam jumlah sedikitpun tetap akan merusak tubuh. Satu pesan yang harus diingat bahwa merokok menyebabkan ganguan pada semua organ tubuh. 

 

Insya Alloh aku tidak bermaksud membicarakan kejelekan beliau yang telah tenang menghadap pemilik sejatinya. Semoga kita dapat belajar dari peristiwa agar lebih optimal menjaga tubuh beserta seluruh organ yang melengkapinya karena tubuh ini hanyalah titipan Alloh yang sewaktu-waktu kitapun akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Terlepas dari takdir Tuhan tentang usia seseorang, kita sebenarnya bisa mencegah kanker dengan pola hidup sehat. Pola hidup sehat dapat diwujudkan mulai dari jenis makanan, intensitas dan frekuensi olah raga. Selain itu sebaiknya juga dilakukan pengecekan sedini mungkin terhadap gejala kanker.

PERINGATAN: Bila digunakan sesuai petunjuk, rokok membunuh.

 



Blog EntryJan 28, '08 12:31 AM
for everyone

Selama sata bulan ini, sudah dua kali aku menerima sms dari dua orang adik tingkatku semasa kuliah dulu. Mereka memang cukup dekat denganku. Maklumlah, dalam satu angkatan yang berjumlah sekitar 30 orang, kaum perempuannya hanya terdapat sekitar sepertiganya. Kondisi ini membuat, aku hampir mengetahui semua kakak atau adik tingkat perempuan di kampusku. Dengan keduanya aku cukup dekat.

Walaupun keduanya berada di kota yang berbeda, satu di Jakarta dan satu lagi di Bengkulu, keduanya seakan mempunyai feeling yang sama, bercerita tentang kebosanan ketika terlalu banyak waktu luang dalam keseharian. Memang, keduanya telah menamatkan kuliah sekitar enam bulan yang lalu. Aku hanya membalas sms mereka dengan sebuah kalimat: Dek, Insya Allah semua ada saatnya. Kalimat ini aku selipkan di antara sekian kata yang bercerita tentang hal lain. Mungkin kalimat itu adalah nasehat yang klise. Atau mungkin juga sebuah penghiburan yang kental dengan basa-basi. Mungkin juga. Entahlah. Namun, aku hanya mempunyai kalimat itu untuk mereka. Aku hanya tidak ingin bernasehat-nasehat dalam sederatan kata yang panjang. Terlalu membosankan nantinya bagi mereka.

Yah, semua ada saatnya. Apapun itu. Aku percaya dengan kalimat itu. Ada saat malam. Ada saat siang tiba. Ada ketika hujan turun. Ada saat kemarau melanda. Ada saat kelahiran. Kematianpun juga ada saatnya. Ada saat kita berhadapan dengan waktu luang. Kesibukanpun yang seakan sebuah bayangan yang mengejar setiap detik-detik kitapun juga ada saatnya. Ada saat kita berhadapan dengan kesulitan ekonomi. Ada saat ketika kehidupan kita sudah dikatakan mapan secara ekonomi. Ada saat kita berstatus sebagai seorang lajang. Ada saat ketika gelar isteri si anu atau suami si anu menjadi bagian hidup kita. Ada saat ketika kita dipanggil ayah atau bunda. Ada saat ketika kita bayi, balita, anak kecil, remaja, dewasa dan orang tua. Ah, terlalu banyak kalau semua saat itu diuraikan dalan tulisan ini. Dan mungkin yang membacapun akan bosan. Begitulah, semua ada saatnya. Bagi siapapun dan apapun. Manusia. Tumbuhan. Begitu juga hewan.

Semua ada saatnya. Mungkin, kita pernah mengeluh saat berhadapan dengan situasi dan kondisi yang sebelumnya tidak pernah berada dalam alam pikir kita. Saat menganggur terlalu lama misalnya. Atau saat asa akan seorang pendamping hidup hampir berada di ujung pengharapan. Mungkin juga saat tangis sang buah hati belum meramaikan kedamaian keheningan rumah mungil kita dalam hari-hari panjang pernikahan kita. Ketiga saat itu mungkin sering kita jumpai pada kehidupan seseorang. Ada rasa cemburu ketika teman kita sudah bekerja di perusahaan ini atau perusahaan itu. Ada rasa perih di hati saat berjumpa dengan teman-teman kita sudah mempunyai pasangan hidup di sebuah resepsi pernikahan, sedangkan kita masih saja sendirian. Ada rasa sedih ketika di sekian tahun usia pernikahan kita, sang penyejuk mata belum juga diamanahkan kepada kita, sedangkan teman-teman yang lain dengan wajah bersinar bercerita tentang 'kenakalan-kenakalan indah' buah hatinya. Ah, mungkin saat-saat itu adalah saat-saat 'terburam' bagi kita. Atau mungkin juga ada saat-saat yang lain yang membuat kita menangis, merasa sendirian dan bertanya: adakah orang lain yang juga memiliki saat-saat ini? Dan tidak ada seorangpun yang mampu menguraikan jawaban atas pertanyaan kita. Begitulah, semua ada saatnya.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Al-Quran surat Al-Insyirah ayat 5-6 berkata mengemukakan kalimat agung itu. Khusus bagiku, kalimat itu begitu indah dalam ruang dengarku. Meninggalkan kesan yang amat dalam di setiap saat-saat yang harus aku lalui. Yah, semua ada saatnya. Sebuah kesulitan, akan didampingi oleh kemudahan. Kesedihan akan berganti dengan kebahagiaan. Kelapangan akan menjadi ujung sebuah kesulitan. Kita, mungkin, memang terkadang terhempas saat ada saat-saat sedih melanda. Kita, mungkin, memang terkadang terjatuh saat pengharapan tidak menemukan wujudnya. Namun, percayalah semua ada saatnya.

Dituturkan oleh Febty Febriani

Artikel ini dapat dibaca selengkapnya di www.eramuslim.com

Blog EntryJan 23, '08 12:38 AM
for everyone

Senin, 21 Januari 2008

 

Perjalanan Outreach (OR) hari ini kuanggap piknik. Siapa bilang OR ke Kulonprogo sama sekali tidak menarik. Kalau kita melewati jalan yang biasa (jalan Wates-Purworejo) mungkin memang tidak banyak pemandangan menarik yang bisa dinikmati. Namun beda halnya jika melewati jalur Selatan, lebih banyak objek cantik yang bisa merefresh mata.

 

Pulang dari OR kami lewat Bantul. Jalan aspal membelah persawahan yang luas menghijau. Melalui kaca jendela mobil yang kami tumpangi kulihat kawanan burung kuntul yang terbang membentuk huruf V. Dalam takjub aku memuji kebesaran Alloh yang Maha Mampu mendesain kemampuan makhluk ciptaan-Nya sehingga bisa berperilaku demikian. Kelompok burung yang terdiri dari puluhan burung warna putih tersebut nampak indah karena membiaskan warna keemasan matahari sore. Kekagumanku pada kebisaan burung-burung tersebut melakukan sesuatu dalam kelompok tak henti-hentinya. Ketika kita kagum pada sesuatu yang merupakan ciptaan Tuhan maka semestinyalah kita lebih kagum pada penciptanya. Makhluk yang bernama burung kuntul memang memiliki perilaku demikian jika sore hari berada di tanah lapang (sawah atau dataran luas). Mereka berkelompok, terbang membentuk huruf V bersudut besar, makin lama makin melebar dan semakin lama kerapatan barisan mereka berkurang sampai akhirnya mereka menghilang. Pasti ada program di dalam otak para burung ini yang bisa memerintahkan otot mereka sehingga mampu bersinergi membentuk barisan terbang yang cantik. Kehidupan berkelompok pastilah membutuhkan leader yang berperan mengorganisasikan anggota-anggota lainnya. Sebelum terbang bersama dilakukan, mereka melakukan perencanaan, pembagian peran dan melakukan koornisasi antar masing-masing. Pastilah telah terjadi pembagian kerja, peran, wewenang, dan saling memahami antar mereka. Sinergi yang menghasilkan pola V yang indah tak akan tercipta jika terjadi saling mendahului terbang (terbang tidak sesuai dengan kesepakatan di awal). Tidak akan indah jika ada yang ngambek karena harus terbang belakangan. Demikian juga jika semua burung menginginkan terbang bersamaan, niscaya tidak akan kita dapati pola V yang cantik. Tak jauh berbeda dengan cerita kodok yang melakukan paduan suara ketika hujan. Salah seorang kodok yang salah bersuara akan diperingatkan oleh temannya dengan diinjak kakinya (ini cerita dari seorang teman yang menjadi saksi langsung). Suara yang keluar tidak pada waktu yang semestinya akan merusak nyanyian katak yang laksana alunan nada berirama tersebut.

 

Subhanallah, hewan saja mampu bersinergi dengan cantik. Bagiamana dengan kita, manusia, yang juga dibekali Tuhan dengan akal dan hati?